Segera Setelah Ekumenisme Datanglah Homoseksualitas

 “Saat ini, para uskup kita tidak berani melawan dengan tegas dosa Sodom, karena mereka sendiri yang menginjak-injak Injil, mentolerir para sodomi, percabulan, dan pedofil dalam komunitas gereja dan tidak mengeluarkan mereka dari tubuh Gereja. "

"Sebaliknya, memalingkan peradilan gereja melawan mereka yang memiliki sakit hati terhadap Ortodoksi, karena kemurniannya; menuduh mereka tidak taat dan bahkan memprovokasi perpecahan dari mereka yang setia pada Tradisi."

Artikel ini berasal dari bab 1 sebuah buklet yang luar biasa - Ketidaktaatan yang Terberkati atau Kepatuhan yang Jahat? - ditulis oleh Imam Agung Theodore Zisis. Buklet lengkap tersedia melalui tautan-tautan berikut:

  • Kata Pengantar Penulis
  • Bab 1 – Segera Setelah Ekumenisme Datanglah Homoseksualitas 
  • Bab 2 – Ketidaktaatan yang Terberkati atau Ketaatan yang Jahat? 
  • Bab 3 – Ketaatan dalam Injil Suci
  • Bab 4 – Pandangan Para Bapa Suci Tetang Ketaatan
  • Bab 5 - Apakah Kita Memiliki Hak untuk Berbicara?

Bab 1

Segera Setelah Ekumenisme Datanglah Homoseksualitas

Menilai secara obyektif situasi di mana Gereja berada saat ini, harus diakui bahwa Gereja telah sangat menyimpang dari Tradisi, berpartisipasi dalam gerakan ekumenis sesat [16]. Hasilnya adalah penyimpangan- penyimpangan lainnya. Jadi, di lingkungan gereja ada penurunan moral yang cepat, banyak rohaniwan sama sekali meninggalkan Injil dan cara hidup patristik, dan sebagian besar keuskupan mengelilingi diri mereka dengan kemewahan, bahkan seringkali melampaui orang-orang sekuler dalam hal ini.

Semua ini, tentu saja, adalah hasil dari mendinginnya iman. Namun, kontak dekat Gereja saat ini dengan pihak Katolik, penghormatan dan penerimaan yang diberikan kepada Paus di Yunani  [17]  dan di negara-negara Ortodoks lainnya [18], mungkin juga memberikan dasar untuk diadopsinya cara hidup sekuler klerus Katolik oleh banyak imam dan membenarkan kesenangan penuh, tanpa Injil dan cita-cita patristik, dalam "kehidupan" beberapa imam dan imam agung modern kita.

Baru-baru ini, kami menulis bahwa Paus datang ke Yunani dan menetap. Meskipun dalam kenyataannya dia tetap pergi. Tetapi, dengan meninggalkan Yunani, dia meninggalkan banyak "paus", dengan berbagai ukuran dan martabat, di mana-mana menanam perdamaian Katolik.

Yang paling menakutkan adalah penetrasi ke dalam tembok gereja dari dosa terburuk Sodom - homoseksualitas. Skandal semacam itu, terkait dengan nama-nama beberapa hierarki, yang telah dibiarkan tanpa perhatian dan pertimbangan selama bertahun-tahun, tanpa penyembuhan spiritual, mendiskreditkan imam yang jujur dan menyebabkan ketidakpercayaan akan firman Gereja. Siapa yang sekarang akan percaya pada kita, para gembala, ketika kita berbicara tentang kesopanan, tidak terikat pada hak milik, penyangkalan terhadap semua hal duniawi, asketisme, pantang dan keperawanan?

Namun, sebagian besar klerus sudah lama berhenti membicarakannya, karena mereka sendiri tidak percaya pada semua ini. Yang lain dengan munafik menyatakan diri mereka berbudi luhur dalam kata-kata, tetapi perbuatan mereka membuktikan sebaliknya.

Kemarahan Tuhan yang mengerikan dicurahkan ke atas orang Sodom karena sodomi mereka, api dari surga benar-benar membakar Sodom dan Gomora [19], menghapus kota-kota kuno ini dari muka bumi. Kata-kata marah terhadap homoseksualitas terkandung dalam Surat Rasul Suci Paulus kepada orang Romawi, seperti dalam teks suci lainnya. Mendengar kasus percabulan di antara kerabat dekat di Korintus [20], rasul Paulus menuntut agar orang yang hina itu dikeluarkan dari komunitas gereja agar teladan buruknya tidak menjadi ragi yang buruk. Bagaimana kita berani menghakimi dunia, kata rasul Paulus, ketika kita sendiri membiarkan dosa tidak tersentuh di dalam tubuh Gereja? “Tetapi yang kutuliskan kepadamu ialah supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang ada di dalam jemaat? Tapi mereka yang berada di luar  jemaat akan dihakimi oleh Allah. Jadi usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu ”(1 Kor. 5, 11–13).

Akan tetapi, dapatkah rasul Paulus, juga murid-murid Kristus dan para Bapa Suci lainnya, membayangkan bahwa akan datang suatu masa ketika Injil akan dilanggar dan hukum Allah tidak akan memiliki kuasa? Bahwa tidak hanya para pezina tidak akan dikucilkan dari Gereja, tetapi para sodomi juga akan diizinkan naik takhta, menyentuh bejana suci dengan tangan mereka yang najis dan jahat? Mungkinkah orang-orang kudus Tuhan berpikir bahwa kita akan berpartisipasi dalam WCC (World Council of Churches/Dewan Gereja-gereja Dunia) dan tidak hanya makan bersama, tetapi juga melakukan doa bersama dengan orang-orang Kristen palsu, dengan perwakilan dari apa yang disebut gereja-gereja, yang telah jatuh begitu jauh dari kebenaran di mana mereka telah mulai memberkati pernikahan sesama jenis?

Saat ini, para uskup kita tidak berani melawan dengan tegas dosa Sodom (yang coba diterapkan oleh para pengkhotbah Renaisans Barat yang suram pada Ortodoksi), karena mereka sendiri menginjak-injak Injil, mentolerir para sodomi, percabulan, dan pedofil dalam komunitas gereja dan tidak mengeluarkan mereka dari tubuh Gereja.

Oleh karena itu, ajaran Gereja yang diarahkan terhadap homoseksualitas memantul kembali kepada mereka yang berani mengucapkannya, dengan diperkuat argumen seperti ini: “Mengapa Anda tidak memperhatikan betapa tidak punya malunya Anda? Mengapa Anda tidak melihat sifat buruk yang memalukan dan tidak wajar di tengah-tengah Anda? ”

Sayangnya, hierarki gereja saat ini lebih suka memelihara hubungan baik dengan kekuasaan yang ada, mematuhi rencana duniawi mereka - sinkretis, globalistik, ekumenis, lingkungan dan sosial (sebenarnya munafik). Mereka rupanya lupa bahwa tidak ada yang lebih bernilai dan berharga dari pada Tuhan dan iman yang benar; bahwa hanya Kristuslah Terang dunia dan bahwa pelayanan dan misi terpenting mereka adalah untuk bersaksi, berkhotbah dan mengungkapkan Terang ini, yang selalu bersinar di dalam Gereja yang Satu Kudus Katolik dan Apostolik . Dan segala sesuatu di luar Gereja adalah “Orang-orang Pagan Galilea, orang-orang yang duduk dalam kegelapan” (Matius 4, 15–16), yang harus dibawa kepada terang, dan tidak ditinggalkan dalam kegelapan ketidaktahuan akan Allah, kesalahan, dan kesesatan.

Tidak ada manusia yang dapat menjadi sumber cahaya, mereka tidak dapat memancarkan cahaya mereka sendiri. Orang yang terlalu percaya bahwa dia memancarkan cahaya, orang seperti itu sebenarnya hanya akan mempertebal kegelapan. Bahkan berkenaan dengan orang teragung dari semua orang yang pernah dilahirkan  seorang wanita, St. Yohanes Pembaptis, penginjil menulis bahwa “dia bukan terang itu, tetapi [diutus] untuk menjadi saksi dari Terang itu. Dia datang untuk memberi kesaksian, untuk bersaksi tentang Terang itu, agar semua dapat percaya melaluinya”(Yohanes 1, 7–8).

Dia yang tidak percaya bahwa keselamatan di dalam Kristus hanya mungkin di dalam Gereja, tetapi percaya bahwa itu dapat ditemukan dalam perkumpulan -perkumpulan sesat, tidak hanya tidak diselamatkan, tetapi juga terus menerus menderita dalam dirinya sendiri murka penghukuman Tuhan: “Dia yang percaya pada Sang Putra memiliki hidup yang kekal, tetapi dia yang tidak percaya kepada Nya tidak akan melihat hidup, tetapi murka Allah tetap di atasnya ”(Yohanes 3, 36).

Apakah Terang Kristus, yang menerangi semua dan selalu bersinar di dalam Gereja, memiliki kesamaan dengan kegelapan ekumenisme, menyamakan dan menyetarakan semua agama dan pengakuan iman? Apakah kita lebih memilih sang petapa, yang setara dengan para malaikat dan Perintis surgawi, atau pemimpin ekumenis yang terpencil dan duniawi? Akankah kita mematuhinya – yang melaluinya penggoda pernah berbisik kepada Kristus, membisikkan kepada kita tentang berkat, kesia-siaan, dan kuasa duniawi?

Kita bukan lagi terang dunia, karena kita tidak bersinar dengan kemurnian hidup kita, atau garam dunia, karena kita tidak melindungi dunia dari kerusakan moral yang meningkat. Dan karena itu, karena tidak layak secara rohani, kita dihina dan diinjak-injak oleh orang-orang: “Kamu adalah garam mmdunia. Jika garam kehilangan kekuatannya, bagaimana kamu bisa membuatnya asin? Tidak ada artinya lagi, kecuali dibuang untuk diinjak-injak manusia ”(Matius 5:13).

Sebelumnya, Gereja kita, Ortodoksi kita yang asketis, kudus dan tak bernoda, berkat kehidupan bajik dari para imam Ortodoks, memiliki hak moral untuk mencela gaya hidup yang hilang dari para klerus Katolik Roma, seperti yang, misalnya, dilakukan St. Simeon dari Tesalonika dalam Mystagogue [21] : “Dan bahkan percabulan sama sekali tidak dihukum oleh imam mereka, tetapi mereka secara terbuka memiliki selir dan pemuda untuk pesta pora, dan pada saat yang sama mereka bertindak sebagai imam ... Dan mereka menjalani kehidupan yang bertentangan dengan Injil, karena tidak ada kesenangan dan pesta pora di antara mereka yang dapat dikecam, dan itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak diperbolehkan bagi orang Kristen ".

Dan hari ini, para klerus kita, yang telah menjadi sarang para sodomi dan penyimpang, sudah dirundung kerusakan moral. Namun, hierarki sama sekali tidak peduli tentang bagaimana melindungi orang muda dari rayuan untuk menyimpang dari jalan yang benar, atau bagaimana mencegah semua komunikasi mereka dengan pribadi-pribadi yang menyimpang, terutama di pagar gereja. Sebaliknya, memalingkan peradilan gereja melawan mereka yang memiliki sakit hati terhadap Ortodoksi, karena kemurniannya; menuduh mereka tidak taat dan bahkan memprovokasi perpecahan dari mereka yang setia pada Tradisi.

Tetapi dapatkah pernyataan tentang fakta-fakta seperti itu, yang bersaksi tentang penurunan moral yang terus tumbuh di antara para klerus, benar-benar membingungkan dan menghina umat beriman, dapatkah itu menjadi godaan?

Memang, pernyataan kami tentang masalah iman dan kehidupan gereja membuat banyak orang khawatir, dan bahkan mungkin membuat mereka tertekan. Tapi kami mengangkat masalah ini dari niat baik dan niat terbaik, dan bukan karena permusuhan pribadi kepada siapa pun. Untuk menghormati martabat uskup dan imam agung yang baik, kami tidak pernah menghasut siapa pun untuk berpisah. Dan kami juga tidak berniat melakukan ini di masa depan.


Artikel ini berasal dari bab 1 sebuah buklet yang luar biasa - Ketidaktaatan yang Terberkati atau Kepatuhan yang Jahat? - ditulis oleh  Imam Agung Theodore Zisis. Buklet lengkap tersedia melalui tautan-tautan berikut:

  • Kata Pengantar Penulis
  • Bab 1 – Segera Setelah Ekumenisme Datanglah Homoseksualitas 
  • Bab 2 – Ketidaktaatan yang Terberkati atau Ketaatan yang Jahat? 
  • Bab 3 – Ketaatan dalam Injil Suci
  • Bab 4 – Pandangan Para Bapa Suci Tetang Ketaatan
  • Bab 5 - Apakah Kita Memiliki Hak untuk Berbicara?